RESUME BUKU UNESCO ICT COMPETENCY FRAMEWORK FOR TEACHERS

edo
0



Di susun guna memenuhi tugas
Mata Kuliah Statistik Pendidikan dan Komputer
Dosen Pengampu :  Prof. Dr. BUDI MURTIYASA.


 






Disusun oleh :
Subkhi Widyatmoko    ( Q100150061 )
Kelas IB




SEKOLAH PASCA SARJANA
MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015


Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis panjatkan ke Hadirat Allah Tuhan Yang Maha  Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta hanya kepada-Nya lah kita memohon pertolongan atas segala urusan dunia dan akherat.
Berkat petunjuk dan pertolongan-Nya serta bimbingan dari Bapak Prof. Dr. BUDI MURTIYASA serta bantuan rekan-rekan sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan resume buku ini dengan baik.
Penulis menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan. Oleh karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan. Semoga penulisan resume buku  ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi semua pembaca pada umumnya

Surakarta,.........................

Penulis




A.    RESUME BUKU

UNESCO ICT COMPETENCY FRAMEWORK FOR TEACHERS


Penerbit                :  United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization 7, place de Fontenoy, 75352 PARIS 07 SP © UNESCO and Microsoft 2011

1.PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi saat ini berkembang dengan pesat. Jika teknologi informasi dan komunikasi digunakan sebagaimana semestinya akan sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan misalnya : proses belajar mengajar semakin lancar, siswa lebih berprestasi, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar semakin meningkat, komunikasi antara siswa dan orang tua semakin terbuka, sekolah lebih produktif, sistem manajemen dan monitoring sekolah lebih efisien. Maka dari itulah, rasanya tidak mengherankan jika kesempatan yang ditawarkan ICT/Information and Communication Technology  (teknologi informasi dan komunikasi) demi perkembangan ekonomi dan masyarakat juga berlaku untuk dunia pendidikan.
Menggunakan ICT secara efektif
Penggunaan ICT tergantung mata pelajaran yang akan diajarkan, tujuan belajar mengajar, dan kondisi siswa. Ada prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan saat menggunakan ICT selama proses mengajar, dan inilah yang mendasari proyek UNESCO ICT Competency Framework for Teachers (ICT-CFT)—kerangka kompetensi guru dalam mengoperasikan teknologi informasi dan komunikasi sesuai standar UNESCO.
 Proyek ini menegaskan betapa ICT mampu mengubah dunia pendidikan. ICT menawarkan lingkungan belajar yang lebih partisipatif, menghapus jarak antara pendidikan formal dan informal, merangsang guru untuk lebih memperbaiki cara mengajar, dan mendorong siswa lebih aktif belajar.
Tentang proyek ICT-CFT
Mengingat pentingnya ICT bagi dunia pendidikan, UNESCO (bekerjasama dengan partnernya seperti CISCO, Intel, ISTE, Microsoft serta para pakar pendidikan seluruh dunia) menyelenggarakan konsultasi ekstensif guna mengidentifikasikan kompetensi yang harus dimiliki guru agar mereka dapat menggunakan teknologi secara efektif selama proses belajar mengajar. Aktivitas UNESCO tersebut tertuang dalam proyek UNESCO ICT Competency Framework for Teachers (ICT-CFT) yang terbagi menjadi 3 paket dan dipublikasikan pertama kali pada tahun 2008, yaitu :
1.        Policy Framework (Kerangka Kebijakan); menjelaskan landasan, struktur, dan pelaksanaan proyek ICT-CFT.
2.        Competency Framework Modules (Modul Kerangka Kompetensi); menjelaskan cara memadukan 3 tahap perkembangan pendidikan dengan 6 aspek kinerja guru demi terciptanya 18 modul kompetensi guru.
3.        Implementation Guidelines (Pedoman Pelaksanaan); menjelaskan spesifikasi setiap modul secara detail.
Cara mengaplikasikan proyek ini
Guru bisa membaca spesifikasi modul, contoh silabus dan spesifikasi ujian yang terdapat di lembar lampiran jurnal ini sehingga mereka mengetahui cara menggunakan ICT dengan benar selama proses belajar mengajar. Lampiran ini sekaligus berfungsi sebagai pedoman penetapan kebijakan pendidikan (bagi pemerintah), sumber referensi (bagi institusi pendidikan), dasar penyusunan kurikulum (bagi guru), dan pedoman penilaian kompetensi guru.

2.PRINSIP
Proyek dan kebijakan pendidikan UNESCO
Proyek ICT-CFT merupakan bagian dari program PBB dan lembaganya (dalam hal ini UNESCO) yang bertujuan mendorong reformasi pendidikan dan perkembangan ekonomi. Proyek Millennium Development Goals/MDG (Target Perkembangan Milenium), Education for All/EFA (Pendidikan untuk Semua), UN Literacy Decade/UNLD (Era Melek Huruf PBB), dan Decade of Education for Sustainable Development/DESD (Pendidikan untuk Perkembangan Berkelanjutan) sama-sama bertujuan mengurangi angka kemiskinan, memperbaiki kesehatan dan kualitas kehidupan, menekankan persamaan hak antara pria dan wanita, menghormati hak asasi semua umat manusia (terutama kaum minoritas); dan pendidikan dianggap turut andil pada tercapainya tujuan tersebut, pendidikan dianggap sebagai kunci perkembangan ekonomi dan cara yang dapat ditempuh semua orang untuk memaksimalkan potensi serta mengendalikan semua hal yang berdampak bagi mereka.
Semua orang berhak mendapatkan pendidikan. EFA dan DESD mengutamakan kualitas belajar (yang dipelajari dan cara mempelajarinya). ENLD dan EFA menganggap kemampuan membaca (melek huruf) sebagai kunci utama belajar dan pendidikan. EFA, DESD, dan UNLD menganggap pendidikan informal (diselenggarakan di luar sistem sekolah) sama dengan belajar di sekolah. Komisi Internasional Bidang Pendidikan UNESCO abad 21 proses belajar sepanjang usia dan partisipasi aktif di lingkungan pendidikan sebagai kunci mengatasi tantangan di dunia yang berubah sedemikian cepatnya. Komisi ini menetapkan 4 pilar belajar : “belajar hidup bersama”, “belajar memahami”, “belajar mencoba”, dan “belajar berhasil”.
Proyek yang berkaitan dengan ICT, pendidikan dan ekonomi
Proyek ICT-CFT menghimpun sejumlah tujuan di bidang pendidikan, serta tujuan pendidikan yang ingin dicapai UNESCO dan PBB. Sesuai program-programnya, ICT-CFT fokus pada usaha mengurangi angka kemiskinan dan memperbaiki kualitas hidup, serta memperbaiki kualitas pendidikan (seperti tujuan EFA dan DESD). ICT-CFT juga memiliki program pemberantasan buta huruf (seperti UNLD). Proyek ICT-CFT menekankan pentingnya pendidikan jangka panjang.
Proyek ICT-CFT sejalan dengan pernyataan Komisi Internasional, bahwa telah terjadi ketimpangan rasa keadilan, penghargaan terhadap hak asasi manusia, dan kebijaksanaan pengelolaan sumber daya alam seiring dengan pertumbuhan ekonomi. ICT-CFT berusaha menyelaraskan kesejahteraan manusia dengan perkembangan ekonomi berkelanjutan, membuat keduanya berjalan beriringan melalui reformasi pendidikan sistemik (seperti tujuan DESD).
Tiga faktor pertumbuhan ekonomi
Para ekonom mengeidentifikasikan 3 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi (berdasarkan peningkatan kapasitas manusia):
1.        Tambahan modal—kemampuan tenaga kerja mengoperasikan peralatan yang lebih produktif dari sebelumnya.
2.        Tenaga kerja berkualitas tinggi—tenaga kerja berpendidikan akan memberikan nilai tambah ouput ekonomi.
3.        Inovasi teknologi—kemampuan tenaga kerja menciptakan, mendistribusikan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan.
Tiga pendekatan proyek ICT-CFT
Ketiga faktor produktivitas berikut saling melengkapi, mengkorelasikan kebijakan bidang pendidikan dengan perkembangan ekonomi:
1.        Memaksimalkan manfaat teknologi baru yang digunakan siswa, warga negara, dan tenaga kerja dengan cara memasukkan keahlian menggunakan teknologi ke dalam kurikulum—disebut pendekatan “Penguasaan Teknologi”
2.        Meningkatkan kemampuan siswa, warga negara, dan tenaga kerja dalam menerapkan ilmu pengetahuan sehingga memberikan nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian; hal ini dapat dilakukan dengan menerapkan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan permasalahan kompleks dalam kehidupan nyata—disebut pendekatan “Pendalaman Ilmu Pengetahuan”
3.        Meningkatkan kemampuan siswa, warga negara, dan tenaga kerja dalam berinovasi, menciptakan ilmu baru, dan mengambil manfaat dari ilmu tersebut—disebut pendekatan “Penciptaan Ilmu Pengetahuan.”
UNESCO bermaksud menempatkan pendidikan guru sebagai salah satu tujuan perkembangan negara (sebagaimana tercantum di salah satu laporannya yang berjudul Capacity Building of Teacher-Training Institutions in Sub-Saharan Africa/TTISSA). Ketiga pendekatan bidang pendidikan ini sangat membantu perkembangan perekonomian suatu negara dan penduduknya (mereka yang menggunakan teknologi baru, tenaga kerja dengan tingkat kinerja relatif tinggi, dan masyarakat yang terbuka terhadap ekonomi dan informasi). Siswa, warga negara dan tenaga kerja butuh banyak ketrampilan dan keahlian untuk menunjang perkembangan ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan, serta memperbaiki standar kehidupan.






ENAM ASPEK KERJA GURU
MEMAHAMI ICT DI BIDANG PENDIDIKAN
KURIKULUM DAN PENILAIAN
METODE MENGAJAR
ICT
ORGANISASI DAN ADMINISTRASI
PEMANTAPAN PROFESI GURU

Reformasi pendidikan
Penggunaan teknologi baru di dunia pendidikan mengimplikasikan peran guru, metode mengajar, dan pendekatan mengajar yang serba baru bagi program pemantapan profesi guru. Keberhasilan integrasi ICT di ruang kelas sangat tergantung kemampuan guru menciptakan lingkungan belajar, memadukan teknologi baru dengan metode mengajar, menciptakan suasana belajar-mengajar aktif, mendorong model interaksi kooperatif, pembelajaran dan kelompok belajar kolaboratif.
Semua ini membutuhkan keahlian manajemen kelas. Guru masa depan dituntut memiliki keahlian mengajar seperti mampu menggunakan teknologi baru secara inovatif demi terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik, menguasai teknologi, memperdalam ilmu pengetahuan, dan menciptakan ilmu baru. Pemantapan profesi guru menjadi komponen penting perbaikan dunia pendidikan. Akan tetapi, dampak positifnya baru terasa apabila pemantapan profesi guru difokuskan pada perubahan cara mengajar saja.
3.MODUL
Ada 18 modul yang disusun menurut 3 pendekatan mengajar berdasarkan perkembangan kapasitas manusia (penguasaan teknologi, pendalaman ilmu pengetahuan, dan penciptaan ilmu pengetahuan) dan 6 aspek kerja guru (memahami ICT di bidang pendidikan, kurikulum-penilaian, metode mengajar, ICT, organisasi dan administrasi, pemantapan profesi guru).

Penguasaan teknologi
Pendekatan “penguasaan teknologi” bertujuan mengajak siswa, warga negara dan tenaga kerja menggunakan/menguasai ICT untuk mendukung perkembangan sosial dan memperbaiki produktivitas ekonomi. Tujuan lainnya ialah meningkatkan peran serta siswa, warga negara, dan tenaga kerja; mencetak SDM berkualitas; dan memperbaiki kemampuan mengoperasikan teknologi. Guru harus memahami tujuan tersebut, mampu mengidentifikasikan komponan-komponen program reformasi pendidikan yang sesuai dengan tujuan tersebut. Perubahan yang diharapkan dari aplikasi pendekatan ini antara lain siswa, warga negara, dan tenaga kerja semakin menguasai teknologi dan keahlian ICT dapat dimasukkan ke konteks kurikulum yang relevan.
Berikut contoh pendekatan ‘penguasaan teknologi’ yang biasa kita jumpai:
PENGUASAAN TEKNOLOGI DALAM KESEHARIAN GURU
Memahami ICT di bidang pendidikan


Guru bahasa daerah mengetahui prinsip dasar penggunaan ICT selama mengajar, mereka berusaha menggunakan whiteboard interaktif yang baru dipasang di ruang kelas dengan sebaik-baiknya. Namun hingga kini, whiteboard itu hanya digunakan sebagai layar proyektor.
Kurikulum dan penilaian
Guru mengetahui kalau penggunaan sistem olah kata di whiteboard interaktif menjadi salah satu metode baru mengajarkan ketrampilan dasar (yaitu memperbaiki cara penyusunan kalimat). Lewat sistem olah kata (word processing), setiap kata bisa diganti dan dipindahkan tanpa harus menulis ulang semua kata-kata di selembar kertas.
Metode mengajar
Guru menampilkan contoh kesalahan penulisan di whiteboard interaktif dengan bantuan sistem olah kata. Guru menunjukkan cara menyusun kalimat dengan lebih mudah (dengan sedikit mengganti pilihan kata dan susunan kata).
Selanjutnya, guru memberikan sejumlah pertanyaan pada siswa, mempersilahkan mereka memberikan saran atau menunjukkan kesalahan penulisan kalimat, kemudian memperbaikinya. Guru menampilkan setiap perubahan di whiteboard interaktif (sesuai permintaan siswa) sehingga semua siswa melihat proses belajar mengajar tersebut.
Terakhir, guru duduk di salah satu sudut ruang kelas, meminta siswa mendekati whiteboard interaktif, dan mengoperasikannya sendiri sehingga mereka tahu cara memperbaiki susunan kalimat.
ICT
Mula-mula, guru menggunakan aplikasi olah kata di whiteboard interaktif selama berdiskusi dengan siswa.
Selanjutnya, masing-masing siswa menggunakan laptop. Begitu laptop siswa dan komputer guru tersambung, guru bisa dengan mudahnya menampilkan contoh-contoh penyusunan kalimat di whiteboard interaktif, siswa bisa merevisinya dalam waktu 5 menit saja. Semua siswa berdiskusi dan mengevaluasi contoh-contoh susunan kalimat.
Organisasi dan administrasi
Di jam pelajaran kedua, guru menggunakan laptop sekolah, setiap siswa menggunakan aplikasi olah kata di laptop masing-masing. Guru mengajar 2 mata pelajaran, siswa diharapkan tahu betul apa yang harus mereka lakukan di jam pelajaran kedua tanpa harus bertanya atau berdiskusi. Siswa diharapkan bisa menggunakan laptop semaksimal mungkin.
Guru mencatat nilai setiap siswa di file sentral dengan bantuan jaringan komputer sekolah; guru lain dan pihak administrasi sekolah dapat mengakses nilai tersebut dengan mudah.
Pemantapan profesi guru
Guru membuka website guru bahasa daerah untuk mendapatkan sumber/materi ajar ketrampilan menulis; termasuk PR dan tugas menulis, serta materi pelajaran.
Pendalaman ilmu pengetahuan
Pendekatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan siswa, warga negara dan tenaga kerja agar menjadi nilai tambah bagi perkembangan ekonomi dan masyarakat. Hal ini dapat diwujudkan dengan cara menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat di bangku sekolah untuk menyelesaikan permasalahan kompleks di dunia nyata (baik di lingkungan kerja, masyarakat dan dalam kehidupan pada umumnya).
erikut contoh pendekatan ‘pendalaman ilmu pengetahuan’ yang biasa kita jumpai:
PENDALAMAN ILMU PENGETAHUAN DALAM KESEHARIAN GURU
Memahami ICT di dunia pendidikan
Guru olahraga frustasi karena beberapa siswanya tidak suka berolahraga dan tidak tahu pentingnya olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Guru ini berpikir menggunakan ICT untuk mengubah sikap siswa dan membuat mereka lebih bugar; kemudian ia mengajukan anggaran ke pengelola sekolah, menjelaskan pentingnya ICT untuk memperbaiki penyampaian mata pelajaran olahraga dan memudahkan siswa mempelajarinya.
Kurikulum dan penilaian
Guru olahraga menggunakan ICT khusus untuk masalah kesehatan, sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Sekarang, dia bisa memasukkan fisiologi manusia ke dalam kurikulum. Sebelumnya, topik ini dianggap terlalu abstrak dan penjelasannya pun terlalu teoritis; sekarang dia bisa menerangkan proses fisiologi lewat simulasi komputer (video dan animasi) sehingga siswa lebih mudah memahami. Dengan cara inilah siswa lebih memahami pelajaran olahraga.
Selain itu, guru juga lebih efisien dalam memberikan penilain formatik karena kegiatan siswa di ruang senam direkam dengan kamera video digital. Hasil rekaman ini ditunjukkan ke siswa, siswa tahu bahwasannya mereka harus mengerakkan tangan dan kakinya ke berbagai arah. Siswa yang dulunya tidak tahu kalau gerakannya salah, sekarang jadi tahu apa yang harus dilakukannya untuk memperbaiki gerakan senamnya.
Metode mengajar
Sebelumnya, guru tidak tahu cara menyampaikan pentingnya kesehatan pada para siswa (inilah yang membuat siswa tidak menyukai pelajaran olahraga). Sekarang guru bisa melakukannya dengan cara memutar klip-klip dramatis yang diambil dari beberapa film, turnamen olahraga, video music dan tari yang menampilkan selebritis atletis dan membuat kebugaran sebagai sesuatu yang menarik.
Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok sehingga mereka dapat mengukur tingkat kebugaran satu sama lain (contoh : mengukur seberapa cepat detak jantung kembali normal setelah berolahraga). Mereka menganalisa hasil  penilaian, memberikan saran dan masukan satu sama lain, membuat kertas kerja untuk mengetahui perkembangan masing-masing siswa di bulan berikutnya. Saat mengikuti program kebugaran atau olahraga, siswa saling memberikan masukan dan dukungan di jejaring sosial.
ICT
Guru mendapat:
-       Laptop dan proyektor data sehingga semua siswa bisa melihat apa saja yang tampil di layar laptop.
-       Klip video dari internet.
-       Simulasi dan animasi olahraga dan fisiologi manusia.
-       Alat pencatat data sederhana seperti sensor detak jantung yang datanya langsung tersambung ke laptop.
-       Software kertas kerja agar siswa bisa mencatat perkembangan kebugaran/kesehatannya setiap minggu.
-       Kamera video digital untuk merekam gerakan siswa dan menggunakan alat-alat olahraga di ruang senam.
Siswa juga menggunakan komputer di sekolah dan rumah untuk mengakses kertas kerja dan situs jejaring sosial. Beberapa siswa justru menggunakan HP untuk mem-posting kegiatan olahraga hariannya ke jejaring sosial.
Organisasi dan administrasi
Guru olahraga hanya boleh menggunakan laptop dan proyektor data di ruang senam untuk menyampaikan materi (video). Dengan merekam kegiatan di ruang senam dan memutar klip video menggunakan kamera atau layar komputer (laptop), guru akan lebih mudah merancang aktivitas olahraga, setidaknya semua siswa berkesempatan melihat rekaman itu sekali/jam pelajaran atau mengetahui tingkat kebugarannya/minggu.
Guru menggunakan laptop untuk memonitor kepatuhan siswa mengisi kertas kerja, mem-posting komentar dan informasi tambahan seputar olahraga di jejaring sosial.
Pemantapan profesi guru
Guru mengikuti forum diskusi (via internet) yang diprakasai asosiasi guru olahraga secara teratur. Forum ini menjadi sumber ide yang sangat berguna; guru olahraga jadi tahu cara membuat siswa lebih tertarik dengan pelajaran olahraga. Sebagai contoh, guru menanyakan peralatan yang ingin dicoba siswa pada pelajaran olahraga lewat posting jejaring sosial.

4.      IMPLEMENTASI
Negara-negara yang ingin menerapkan proyek ICT-CFT UNESCO mungkin bisa mengawalinya dengan meneliti tingkat kompetensi guru terkait ICT. Hal ini dapat dilakukan lewat tes atau kuisioner sampel silabus dan spesifikasi ujian sebagaimana terdapat di Lampiran 2. Hasil penelitian menjadi penentu pendekatan ICT-CFT (dari total 3 pendekatan) yang paling relevan, mengidentifikasikan hal-hal yang perlu diprioritaskan berkenaan dengan pendidikan guru dan pemantapan profesi guru.
Struktur modul
ICT-CFT disajikan dalam bentuk modul. Guru, institusi pendidikan dan instruktur pemantapan profesi tidak perlu menggunakan semua modul dan kompetensi di setiap aktivitas pembelajaran. Mereka dapat memilih modul yang ingin digunakan, yang penting konsisten dengan tujuan dan landasan proyek ICT-CFT. Alasan pemilihan modul harus jelas. pemilihan modul bisa berasarkan ruang lingkup, ilmu pengetahuan, dan pelaku (coordinator teknologi, penyusun kurikulum, atau kepala sekolah).
Perbaikan
Ketika kompetensi dianggap komprehensif, maka ICT-CFT bisa dijadikan rancangan pengembangan. ICT dikaji secara berkala, demikian juga proses dan struktur pendidikan. Instruktur pemantapan profesi, guru-pendidik menyampaikan masukan ke UNESCO tentang langkah-langkah memperbaiki isi, struktur dan proses pengkajian proyek.
Rencana perkembangan
Laporan TTISSA menyebutkan kalau tujuan program pendidikan guru kerapkali melenceng. ICT-CFT bertujuan menyampaikan target kebijakan berbentuk pendekatan baru di bidang mengajar untuk pihak pembuat kebijakan bidang pendidikan. Target kebijakan ini digunakan untuk mereformasi program pendidikan guru dan pemantapan profesi guru, mendukung perkembangan ekonomi dan sosial.

B.     KOMENTAR / PENDAPAT
Dari isi artikel tersebut menurut pendapat saya sangat bagus sekali jika diaplikasikan oleh guru dan dunia pendidikan karena dalam buku tersebut telah diuraikan secara rinci mengenai  kerangka kompetensi yang harus dimiliki guru agar mereka dapat menggunakan teknologi secara efektif selama proses belajar mengajar.
 Diuraikan juga mengenai manfaat penggunaaan teknologi informasi dan komunikasi bagi pendidikan diantaranya : proses belajar mengajar semakin lancar, siswa lebih berprestasi, partisipasi siswa dalam proses belajar mengajar semakin meningkat, komunikasi antara siswa dan orang tua semakin terbuka, sekolah lebih produktif, sistem manajemen dan monitoring sekolah lebih efisien.  ICT menawarkan lingkungan belajar yang lebih partisipatif, menghapus jarak antara pendidikan formal dan informal, merangsang guru untuk lebih memperbaiki cara mengajar, dan mendorong siswa lebih aktif belajar. Dunia pendidikan harus mengetahui ketrampilan dan kompetensi yang dibutuhkan siswa agar menjadi anggota masyarakat yang aktif.
Guru bisa membaca spesifikasi modul, contoh silabus dan spesifikasi ujian yang terdapat di lembar lampiran jurnal ini sehingga mereka mengetahui cara menggunakan ICT dengan benar selama proses belajar mengajar. Lampiran ini sekaligus berfungsi sebagai pedoman penetapan kebijakan pendidikan (bagi pemerintah), sumber referensi (bagi institusi pendidikan), dasar penyusunan kurikulum (bagi guru), dan pedoman penilaian kompetensi guru.










Posting Komentar

0Komentar

Posting Komentar (0)