Di susun guna memenuhi
tugas
Mata
Kuliah Statistik Pendidikan dan
Komputer
Disusun oleh :
Subkhi Widyatmoko ( Q100150061 )
Kelas IB
Subkhi Widyatmoko ( Q100150061 )
Kelas IB
SEKOLAH PASCA SARJANA
MAGISTER
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2015
Kata Pengantar
Puji dan syukur penulis panjatkan ke
Hadirat Allah Tuhan Yang Maha Esa yang
telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya serta hanya kepada-Nya lah kita
memohon pertolongan atas segala urusan dunia dan akherat.
Berkat
petunjuk dan pertolongan-Nya serta bimbingan dari Bapak Prof. Dr. BUDI MURTIYASA serta bantuan rekan-rekan sehingga
penulis dapat menyelesaikan penulisan resume buku ini dengan baik.
Penulis menyadari bahwa masih banyak sekali
kekurangan dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengetahuan. Oleh karena itu
kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat diharapkan. Semoga penulisan resume buku ini dapat bermanfaat bagi penulis
khususnya dan bagi semua pembaca pada umumnya
Surakarta,.........................
Penulis
A. RESUME BUKU
UNESCO ICT COMPETENCY FRAMEWORK FOR TEACHERS
Penerbit : United
Nations Educational, Scientific and Cultural Organization 7, place
de Fontenoy, 75352 PARIS 07 SP © UNESCO and Microsoft 2011
1.PENDAHULUAN
Perkembangan teknologi informasi saat
ini berkembang dengan pesat. Jika
teknologi informasi dan komunikasi digunakan sebagaimana semestinya akan sangat bermanfaat bagi dunia pendidikan misalnya : proses
belajar mengajar semakin lancar, siswa lebih berprestasi, partisipasi siswa
dalam proses belajar mengajar semakin meningkat, komunikasi antara siswa dan
orang tua semakin terbuka, sekolah lebih produktif, sistem manajemen dan
monitoring sekolah lebih efisien. Maka dari itulah, rasanya tidak mengherankan
jika kesempatan yang ditawarkan ICT/Information
and Communication Technology
(teknologi informasi dan komunikasi) demi perkembangan ekonomi dan
masyarakat juga berlaku untuk dunia pendidikan.
Menggunakan
ICT secara efektif
Penggunaan
ICT tergantung mata pelajaran yang akan diajarkan, tujuan belajar mengajar, dan
kondisi siswa. Ada prinsip-prinsip dasar yang harus diperhatikan saat
menggunakan ICT selama proses mengajar, dan inilah yang mendasari proyek UNESCO ICT Competency Framework for Teachers
(ICT-CFT)—kerangka kompetensi guru dalam mengoperasikan teknologi informasi
dan komunikasi sesuai standar UNESCO.
Proyek ini menegaskan betapa ICT mampu
mengubah dunia pendidikan. ICT menawarkan lingkungan belajar yang lebih
partisipatif, menghapus jarak antara pendidikan formal dan informal, merangsang
guru untuk lebih memperbaiki cara mengajar, dan mendorong siswa lebih aktif
belajar.
Tentang
proyek ICT-CFT
Mengingat
pentingnya ICT bagi dunia pendidikan, UNESCO (bekerjasama dengan partnernya
seperti CISCO, Intel, ISTE, Microsoft serta para pakar pendidikan seluruh
dunia) menyelenggarakan konsultasi ekstensif guna mengidentifikasikan
kompetensi yang harus dimiliki guru agar mereka dapat menggunakan teknologi secara
efektif selama proses belajar mengajar. Aktivitas UNESCO tersebut tertuang
dalam proyek UNESCO ICT Competency
Framework for Teachers (ICT-CFT) yang terbagi menjadi 3 paket dan
dipublikasikan pertama kali pada tahun 2008, yaitu :
1.
Policy
Framework (Kerangka Kebijakan); menjelaskan landasan,
struktur, dan pelaksanaan proyek ICT-CFT.
2.
Competency
Framework Modules (Modul Kerangka Kompetensi); menjelaskan
cara memadukan 3 tahap perkembangan pendidikan dengan 6 aspek kinerja guru demi
terciptanya 18 modul kompetensi guru.
3.
Implementation
Guidelines (Pedoman Pelaksanaan); menjelaskan spesifikasi
setiap modul secara detail.
Cara
mengaplikasikan proyek ini
Guru
bisa membaca spesifikasi modul, contoh silabus dan spesifikasi ujian yang
terdapat di lembar lampiran jurnal ini sehingga mereka mengetahui cara
menggunakan ICT dengan benar selama proses belajar mengajar. Lampiran ini
sekaligus berfungsi sebagai pedoman penetapan kebijakan pendidikan (bagi
pemerintah), sumber referensi (bagi institusi pendidikan), dasar penyusunan
kurikulum (bagi guru), dan pedoman penilaian kompetensi guru.
2.PRINSIP
Proyek dan kebijakan
pendidikan UNESCO
Proyek
ICT-CFT merupakan bagian dari program PBB dan lembaganya (dalam hal ini UNESCO)
yang bertujuan mendorong reformasi pendidikan dan perkembangan ekonomi. Proyek Millennium Development Goals/MDG (Target
Perkembangan Milenium), Education for
All/EFA (Pendidikan untuk Semua), UN
Literacy Decade/UNLD (Era Melek Huruf PBB), dan Decade of Education for Sustainable Development/DESD (Pendidikan
untuk Perkembangan Berkelanjutan) sama-sama bertujuan mengurangi angka
kemiskinan, memperbaiki kesehatan dan kualitas kehidupan, menekankan persamaan
hak antara pria dan wanita, menghormati hak asasi semua umat manusia (terutama
kaum minoritas); dan pendidikan dianggap turut andil pada tercapainya tujuan
tersebut, pendidikan dianggap sebagai kunci perkembangan ekonomi dan cara yang
dapat ditempuh semua orang untuk memaksimalkan potensi serta mengendalikan
semua hal yang berdampak bagi mereka.
Semua
orang berhak mendapatkan pendidikan. EFA dan DESD mengutamakan kualitas belajar
(yang dipelajari dan cara mempelajarinya). ENLD dan EFA menganggap kemampuan
membaca (melek huruf) sebagai kunci utama belajar dan pendidikan. EFA, DESD,
dan UNLD menganggap pendidikan informal (diselenggarakan di luar sistem
sekolah) sama dengan belajar di sekolah. Komisi Internasional Bidang Pendidikan
UNESCO abad 21 proses belajar sepanjang usia dan partisipasi aktif di
lingkungan pendidikan sebagai kunci mengatasi tantangan di dunia yang berubah
sedemikian cepatnya. Komisi ini menetapkan 4 pilar belajar : “belajar hidup
bersama”, “belajar memahami”, “belajar mencoba”, dan “belajar berhasil”.
Proyek yang berkaitan dengan ICT,
pendidikan dan ekonomi
Proyek
ICT-CFT menghimpun sejumlah tujuan di bidang pendidikan, serta tujuan
pendidikan yang ingin dicapai UNESCO dan PBB. Sesuai program-programnya, ICT-CFT
fokus pada usaha mengurangi angka kemiskinan dan memperbaiki kualitas hidup,
serta memperbaiki kualitas pendidikan (seperti tujuan EFA dan DESD). ICT-CFT
juga memiliki program pemberantasan buta huruf (seperti UNLD). Proyek ICT-CFT
menekankan pentingnya pendidikan jangka panjang.
Proyek
ICT-CFT sejalan dengan pernyataan Komisi Internasional, bahwa telah terjadi
ketimpangan rasa keadilan, penghargaan terhadap hak asasi manusia, dan
kebijaksanaan pengelolaan sumber daya alam seiring dengan pertumbuhan ekonomi.
ICT-CFT berusaha menyelaraskan kesejahteraan manusia dengan perkembangan
ekonomi berkelanjutan, membuat keduanya berjalan beriringan melalui reformasi
pendidikan sistemik (seperti tujuan DESD).
Tiga faktor pertumbuhan ekonomi
Para
ekonom mengeidentifikasikan 3 faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi
(berdasarkan peningkatan kapasitas manusia):
1.
Tambahan
modal—kemampuan tenaga kerja mengoperasikan peralatan
yang lebih produktif dari sebelumnya.
2.
Tenaga
kerja berkualitas tinggi—tenaga kerja berpendidikan akan
memberikan nilai tambah ouput ekonomi.
3.
Inovasi
teknologi—kemampuan tenaga kerja menciptakan,
mendistribusikan, dan memanfaatkan ilmu pengetahuan.
Tiga pendekatan proyek ICT-CFT
Ketiga
faktor produktivitas berikut saling melengkapi, mengkorelasikan kebijakan
bidang pendidikan dengan perkembangan ekonomi:
1.
Memaksimalkan manfaat teknologi baru
yang digunakan siswa, warga negara, dan tenaga kerja dengan cara memasukkan
keahlian menggunakan teknologi ke dalam kurikulum—disebut pendekatan
“Penguasaan Teknologi”
2.
Meningkatkan kemampuan siswa, warga
negara, dan tenaga kerja dalam menerapkan ilmu pengetahuan sehingga memberikan
nilai tambah bagi masyarakat dan perekonomian; hal ini dapat dilakukan dengan
menerapkan ilmu pengetahuan untuk menyelesaikan permasalahan kompleks dalam
kehidupan nyata—disebut pendekatan “Pendalaman Ilmu Pengetahuan”
3.
Meningkatkan kemampuan siswa, warga
negara, dan tenaga kerja dalam berinovasi, menciptakan ilmu baru, dan mengambil
manfaat dari ilmu tersebut—disebut pendekatan “Penciptaan Ilmu Pengetahuan.”
UNESCO
bermaksud menempatkan pendidikan guru sebagai salah satu tujuan perkembangan
negara (sebagaimana tercantum di salah satu laporannya yang berjudul Capacity Building of Teacher-Training
Institutions in Sub-Saharan Africa/TTISSA). Ketiga pendekatan bidang
pendidikan ini sangat membantu perkembangan perekonomian suatu negara dan
penduduknya (mereka yang menggunakan teknologi baru, tenaga kerja dengan
tingkat kinerja relatif tinggi, dan masyarakat yang terbuka terhadap ekonomi
dan informasi). Siswa, warga negara dan tenaga kerja butuh banyak ketrampilan
dan keahlian untuk menunjang perkembangan ekonomi, sosial, budaya dan
lingkungan, serta memperbaiki standar kehidupan.
ENAM ASPEK KERJA GURU
|
MEMAHAMI
ICT DI BIDANG PENDIDIKAN
|
KURIKULUM
DAN PENILAIAN
|
METODE
MENGAJAR
|
ICT
|
ORGANISASI
DAN ADMINISTRASI
|
PEMANTAPAN
PROFESI GURU
|
Reformasi pendidikan
Penggunaan
teknologi baru di dunia pendidikan mengimplikasikan peran guru, metode
mengajar, dan pendekatan mengajar yang serba baru bagi program pemantapan
profesi guru. Keberhasilan integrasi ICT di ruang kelas sangat tergantung
kemampuan guru menciptakan lingkungan belajar, memadukan teknologi baru dengan
metode mengajar, menciptakan suasana belajar-mengajar aktif, mendorong model
interaksi kooperatif, pembelajaran dan kelompok belajar kolaboratif.
Semua
ini membutuhkan keahlian manajemen kelas. Guru masa depan dituntut memiliki
keahlian mengajar seperti mampu menggunakan teknologi baru secara inovatif demi
terciptanya lingkungan belajar yang lebih baik, menguasai teknologi,
memperdalam ilmu pengetahuan, dan menciptakan ilmu baru. Pemantapan profesi guru
menjadi komponen penting perbaikan dunia pendidikan. Akan tetapi, dampak
positifnya baru terasa apabila pemantapan profesi guru difokuskan pada
perubahan cara mengajar saja.
3.MODUL
Ada 18 modul yang disusun menurut 3
pendekatan mengajar berdasarkan perkembangan kapasitas manusia (penguasaan
teknologi, pendalaman ilmu pengetahuan, dan penciptaan ilmu pengetahuan) dan 6
aspek kerja guru (memahami ICT di bidang pendidikan, kurikulum-penilaian,
metode mengajar, ICT, organisasi dan administrasi, pemantapan profesi guru).
Penguasaan teknologi
Pendekatan
“penguasaan teknologi” bertujuan mengajak siswa, warga negara dan tenaga kerja
menggunakan/menguasai ICT untuk mendukung perkembangan sosial dan memperbaiki
produktivitas ekonomi. Tujuan lainnya ialah meningkatkan peran serta siswa,
warga negara, dan tenaga kerja; mencetak SDM berkualitas; dan memperbaiki
kemampuan mengoperasikan teknologi. Guru harus memahami tujuan tersebut, mampu
mengidentifikasikan komponan-komponen program reformasi pendidikan yang sesuai
dengan tujuan tersebut. Perubahan yang diharapkan dari aplikasi pendekatan ini
antara lain siswa, warga negara, dan tenaga kerja semakin menguasai teknologi
dan keahlian ICT dapat dimasukkan ke konteks kurikulum yang relevan.
Berikut
contoh pendekatan ‘penguasaan teknologi’ yang biasa kita jumpai:
PENGUASAAN TEKNOLOGI DALAM KESEHARIAN
GURU
|
|
Memahami
ICT di bidang pendidikan
|
Guru
bahasa daerah mengetahui prinsip dasar penggunaan ICT selama mengajar, mereka
berusaha menggunakan whiteboard
interaktif yang baru dipasang di ruang kelas dengan sebaik-baiknya. Namun
hingga kini, whiteboard itu hanya
digunakan sebagai layar proyektor.
|
Kurikulum
dan penilaian
|
Guru
mengetahui kalau penggunaan sistem olah kata di whiteboard interaktif menjadi salah satu metode baru mengajarkan
ketrampilan dasar (yaitu memperbaiki cara penyusunan kalimat). Lewat sistem
olah kata (word processing), setiap
kata bisa diganti dan dipindahkan tanpa harus menulis ulang semua kata-kata
di selembar kertas.
|
Metode
mengajar
|
Guru
menampilkan contoh kesalahan penulisan di whiteboard
interaktif dengan bantuan sistem olah kata. Guru menunjukkan cara
menyusun kalimat dengan lebih mudah (dengan sedikit mengganti pilihan kata
dan susunan kata).
Selanjutnya,
guru memberikan sejumlah pertanyaan pada siswa, mempersilahkan mereka
memberikan saran atau menunjukkan kesalahan penulisan kalimat, kemudian
memperbaikinya. Guru menampilkan setiap perubahan di whiteboard interaktif (sesuai permintaan siswa) sehingga semua
siswa melihat proses belajar mengajar tersebut.
Terakhir,
guru duduk di salah satu sudut ruang kelas, meminta siswa mendekati whiteboard interaktif, dan
mengoperasikannya sendiri sehingga mereka tahu cara memperbaiki susunan
kalimat.
|
ICT
|
Mula-mula,
guru menggunakan aplikasi olah kata di whiteboard
interaktif selama berdiskusi dengan siswa.
Selanjutnya,
masing-masing siswa menggunakan laptop.
Begitu laptop siswa dan komputer guru tersambung, guru bisa dengan mudahnya
menampilkan contoh-contoh penyusunan kalimat di whiteboard interaktif, siswa bisa merevisinya dalam waktu 5 menit
saja. Semua siswa berdiskusi dan mengevaluasi contoh-contoh susunan kalimat.
|
Organisasi
dan administrasi
|
Di jam
pelajaran kedua, guru menggunakan laptop sekolah, setiap siswa menggunakan
aplikasi olah kata di laptop masing-masing. Guru mengajar 2 mata pelajaran,
siswa diharapkan tahu betul apa yang harus mereka lakukan di jam pelajaran
kedua tanpa harus bertanya atau berdiskusi. Siswa diharapkan bisa menggunakan
laptop semaksimal mungkin.
|
Pemantapan
profesi guru
|
Guru
membuka website guru bahasa daerah
untuk mendapatkan sumber/materi ajar ketrampilan menulis; termasuk PR dan
tugas menulis, serta materi pelajaran.
|
Pendalaman ilmu
pengetahuan
Pendekatan
ini bertujuan meningkatkan kemampuan siswa, warga negara dan tenaga kerja agar
menjadi nilai tambah bagi perkembangan ekonomi dan masyarakat. Hal ini dapat
diwujudkan dengan cara menerapkan ilmu pengetahuan yang didapat di bangku
sekolah untuk menyelesaikan permasalahan kompleks di dunia nyata (baik di
lingkungan kerja, masyarakat dan dalam kehidupan pada umumnya).
erikut
contoh pendekatan ‘pendalaman ilmu pengetahuan’ yang biasa kita jumpai:
PENDALAMAN ILMU PENGETAHUAN DALAM
KESEHARIAN GURU
|
|
Memahami
ICT di dunia pendidikan
|
Guru
olahraga frustasi karena beberapa siswanya tidak suka berolahraga dan tidak
tahu pentingnya olahraga sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Guru ini
berpikir menggunakan ICT untuk mengubah sikap siswa dan membuat mereka lebih
bugar; kemudian ia mengajukan anggaran ke pengelola sekolah, menjelaskan
pentingnya ICT untuk memperbaiki penyampaian mata pelajaran olahraga dan
memudahkan siswa mempelajarinya.
|
Kurikulum
dan penilaian
|
Guru
olahraga menggunakan ICT khusus untuk masalah kesehatan, sesuatu yang belum
pernah dilakukannya. Sekarang, dia bisa memasukkan fisiologi manusia ke dalam
kurikulum. Sebelumnya, topik ini dianggap terlalu abstrak dan penjelasannya
pun terlalu teoritis; sekarang dia bisa menerangkan proses fisiologi lewat
simulasi komputer (video dan animasi) sehingga siswa lebih mudah memahami.
Dengan cara inilah siswa lebih memahami pelajaran olahraga.
Selain
itu, guru juga lebih efisien dalam memberikan penilain formatik karena
kegiatan siswa di ruang senam direkam dengan kamera video digital. Hasil
rekaman ini ditunjukkan ke siswa, siswa tahu bahwasannya mereka harus
mengerakkan tangan dan kakinya ke berbagai arah. Siswa yang dulunya tidak
tahu kalau gerakannya salah, sekarang jadi tahu apa yang harus dilakukannya
untuk memperbaiki gerakan senamnya.
|
Metode
mengajar
|
Sebelumnya,
guru tidak tahu cara menyampaikan pentingnya kesehatan pada para siswa
(inilah yang membuat siswa tidak menyukai pelajaran olahraga). Sekarang guru
bisa melakukannya dengan cara memutar klip-klip dramatis yang diambil dari
beberapa film, turnamen olahraga, video music dan tari yang menampilkan selebritis
atletis dan membuat kebugaran sebagai sesuatu yang menarik.
Guru
membagi siswa menjadi beberapa kelompok sehingga mereka dapat mengukur
tingkat kebugaran satu sama lain (contoh : mengukur seberapa cepat detak
jantung kembali normal setelah berolahraga). Mereka menganalisa hasil penilaian, memberikan saran dan masukan
satu sama lain, membuat kertas kerja untuk mengetahui perkembangan
masing-masing siswa di bulan berikutnya. Saat mengikuti program kebugaran
atau olahraga, siswa saling memberikan masukan dan dukungan di jejaring
sosial.
|
ICT
|
Guru
mendapat:
-
Laptop dan proyektor data
sehingga semua siswa bisa melihat apa saja yang tampil di layar laptop.
-
Klip video dari internet.
-
Simulasi dan animasi olahraga dan
fisiologi manusia.
-
Alat pencatat data sederhana
seperti sensor detak jantung yang datanya langsung tersambung ke laptop.
-
Software kertas kerja agar siswa
bisa mencatat perkembangan kebugaran/kesehatannya setiap minggu.
-
Kamera video digital untuk
merekam gerakan siswa dan menggunakan alat-alat olahraga di ruang senam.
Siswa
juga menggunakan komputer di sekolah dan rumah untuk mengakses kertas kerja
dan situs jejaring sosial. Beberapa siswa justru menggunakan HP untuk mem-posting kegiatan olahraga hariannya ke
jejaring sosial.
|
Organisasi
dan administrasi
|
Guru
olahraga hanya boleh menggunakan laptop dan proyektor data di ruang senam
untuk menyampaikan materi (video). Dengan merekam kegiatan di ruang senam dan
memutar klip video menggunakan kamera atau layar komputer (laptop), guru akan
lebih mudah merancang aktivitas olahraga, setidaknya semua siswa
berkesempatan melihat rekaman itu sekali/jam pelajaran atau mengetahui
tingkat kebugarannya/minggu.
Guru
menggunakan laptop untuk memonitor kepatuhan siswa mengisi kertas kerja, mem-posting komentar dan informasi
tambahan seputar olahraga di jejaring sosial.
|
Pemantapan
profesi guru
|
Guru
mengikuti forum diskusi (via internet) yang diprakasai asosiasi guru olahraga
secara teratur. Forum ini menjadi sumber ide yang sangat berguna; guru
olahraga jadi tahu cara membuat siswa lebih tertarik dengan pelajaran
olahraga. Sebagai contoh, guru menanyakan peralatan yang ingin dicoba siswa
pada pelajaran olahraga lewat posting
jejaring sosial.
|
4. IMPLEMENTASI
Negara-negara
yang ingin menerapkan proyek ICT-CFT UNESCO mungkin bisa mengawalinya dengan
meneliti tingkat kompetensi guru terkait ICT. Hal ini dapat dilakukan lewat tes
atau kuisioner sampel silabus dan spesifikasi ujian sebagaimana terdapat di
Lampiran 2. Hasil penelitian menjadi penentu pendekatan ICT-CFT (dari total 3
pendekatan) yang paling relevan, mengidentifikasikan hal-hal yang perlu
diprioritaskan berkenaan dengan pendidikan guru dan pemantapan profesi guru.
Struktur modul
ICT-CFT
disajikan dalam bentuk modul. Guru, institusi pendidikan dan instruktur
pemantapan profesi tidak perlu menggunakan semua modul dan kompetensi di setiap
aktivitas pembelajaran. Mereka dapat memilih modul yang ingin digunakan, yang
penting konsisten dengan tujuan dan landasan proyek ICT-CFT. Alasan pemilihan
modul harus jelas. pemilihan modul bisa berasarkan ruang lingkup, ilmu
pengetahuan, dan pelaku (coordinator teknologi, penyusun kurikulum, atau kepala
sekolah).
Perbaikan
Ketika
kompetensi dianggap komprehensif, maka ICT-CFT bisa dijadikan rancangan
pengembangan. ICT dikaji secara berkala, demikian juga proses dan struktur
pendidikan. Instruktur pemantapan profesi, guru-pendidik menyampaikan masukan
ke UNESCO tentang langkah-langkah memperbaiki isi, struktur dan proses
pengkajian proyek.
Rencana perkembangan
Laporan
TTISSA menyebutkan kalau tujuan program pendidikan guru kerapkali melenceng.
ICT-CFT bertujuan menyampaikan target kebijakan berbentuk pendekatan baru di
bidang mengajar untuk pihak pembuat kebijakan bidang pendidikan. Target
kebijakan ini digunakan untuk mereformasi program pendidikan guru dan
pemantapan profesi guru, mendukung perkembangan ekonomi dan sosial.
B. KOMENTAR
/ PENDAPAT
Dari
isi artikel tersebut menurut pendapat saya sangat bagus sekali jika
diaplikasikan oleh guru dan dunia pendidikan karena dalam buku tersebut telah
diuraikan secara rinci mengenai kerangka
kompetensi yang harus dimiliki guru agar mereka dapat menggunakan teknologi
secara efektif selama proses belajar mengajar.
Diuraikan juga mengenai manfaat penggunaaan teknologi
informasi dan komunikasi bagi pendidikan diantaranya : proses belajar mengajar
semakin lancar, siswa lebih berprestasi, partisipasi siswa dalam proses belajar
mengajar semakin meningkat, komunikasi antara siswa dan orang tua semakin
terbuka, sekolah lebih produktif, sistem manajemen dan monitoring sekolah lebih
efisien. ICT menawarkan lingkungan
belajar yang lebih partisipatif, menghapus jarak antara pendidikan formal dan
informal, merangsang guru untuk lebih memperbaiki cara mengajar, dan mendorong
siswa lebih aktif belajar. Dunia pendidikan harus mengetahui ketrampilan dan
kompetensi yang dibutuhkan siswa agar menjadi anggota masyarakat yang aktif.
Guru bisa membaca spesifikasi modul,
contoh silabus dan spesifikasi ujian yang terdapat di lembar lampiran jurnal
ini sehingga mereka mengetahui cara menggunakan ICT dengan benar selama proses
belajar mengajar. Lampiran ini sekaligus berfungsi sebagai pedoman penetapan
kebijakan pendidikan (bagi pemerintah), sumber referensi (bagi institusi
pendidikan), dasar penyusunan kurikulum (bagi guru), dan pedoman penilaian
kompetensi guru.

